Masuk

Ingat Saya

Oase Pluralisme dalam Keberagamaan

Hubungan antar umat beragama di Indonesia saat ini tampaknya kembali menjalani sebuah ujian di tengah kebhinekaan dalam negara Pancasila. Berbagai isu panas yang saat ini berkembang berhasil digoreng oleh media-media mainstream dan menjadi sajian yang setiap saat bisa disantap oleh masyarakat tanpa melihat isi sajian tersebut apakah pantas dikonsumsi atau tidak. Hinaan, cacian, hasutan dan propaganda datang silih berganti merasuki sendi-sendi kehidupan masyarakat Indonesia yang dikenal akan keberagamannya. Pagi bisa memuji, sore bisa menghujat, hubungan yang semula harmonis bisa mengalamai keretakan hanya karena  berbeda pandangan terhadap sebuah isu atau peristiwa yang kita tidak tahu asal mula datangnya, tanpa di telaah lebih dalam apakah itu benar atau tidak. Banyak yang memandang diri dan kelompoknya sebagai yang benar, sementara yang lain adalah salah. Bahkan yang lebih miris lagi, ketika bersentuhan dengan ranah sosial dan politik, agama bisa di jadikan sebuah komoditas penguat konflik, ia bisa menjadi pemicu, penguat atau pemberi justifikasi bagi konflik.

Kita hidup di tengah masyarakat yang heterogen, Indonesia sebagai negara yang di dalamnya banyak terdapat beraneka ragam unsur-unsur etnis, agama, budaya daerah, bahasa dan kebudayaan menjadikan sebuah sikap saling pengertian dan memahami antara satu sama lain akan sulit dikembangkan. Sepertinya terlalu ekstrem kalau disebut kurang pengertian, saya bisa katakan hanya sekedar kesalahpahaman terhadap suatu hal yang sedang diperdebatkan. kesalahpahaman tersebut tambah kokoh dengan tekanan dari perkembangan politik, ekonomi dan budaya, kekuatannya semakin bertambah dengan dukungan dari pihak-pihak yang pandai mengambil kesempatan untuk mengeruk untung dari peristiwa yang sedang heboh di tengah-tengah masyarakat. Kedamaian dan kesejukan yang kita harapkan sedikit demi sedikit menguap di terpa angin, sewaktu-waktu bisa muncul lalu kembali rapuh dan tercerai berai.

Kemajemukan agama di Indonesia saat ini memang perlu mendapatkan perhatian serius karena hal ini sangat potensial memicu konflik. Agama seolah-olah dieksploitasi sedemikian rupa dan dijadikan alat legitimasi politik kekuasaan. Program pluralisme dalam bentuk kerukunan antar umat beragama yang selama ini sering digaung-gaungkan tampaknya masih sebatas wacana intelektual dan wacana politis para elite agama dan penguasa. Pentingnya dialog  dan hubungan harmonis umat beragama belum mampu menyentuh kesadaran kolektif masyarakat dan masih sebatas wacana formal. Indikatornya adalah masyarakat semakin rentan akan isu-isu yang berbau agama, sehingga mereka gampang digiring dalam sebuah opini yang dapat menciptakan ketegangan antar sesama masyarakat dan negara serta masih maraknya konflik-konfilik dan aksi yang melibatkan sentiment agama.

Dalam International Declaration of Human Right sudah dijelaskan bahwa masyarakat dunia harus menunjung tinggi keberagamaan individu, masyarakat dan bangsa. Setiap individu memiliki hak kebebasan berpikir, berperasaan, dan beragama. Hak yang sangat asasi ini dilandasi dengan kesadaran dan keyakinan diri serta tidak dibenarkan memperoleh tekanan dari siapapun. Dengan melihat kondisi masyarakat saat ini yang cenderung kritis dalam memandang perbedaan, perlu dikedepankan sifat pluralisme agar hidup rukun dapat tercapai. Akar kata pluralisme adalah “plural”. Plural berasal dari bahasa Inggris plural bermakna jamak atau lebih dari satu. Dengan demikian pluralisme berarti yang mengatakan jamak atau lebih dari satu. Dalam kajian filosofis, pluralisme diberi makna sebagai doktrin bahwa substansi hakiki itu tidak satu (monoisme), tidak dua (dualisme), akan tetapi banyak (jamak).

Salah satu ciri dari pluralisme adalah menghargai perbedaan dalam kebersamaan. Masyarakat yang memiliki karakteristik plural benar-benar meyakini bahwa masing-masing pihak berada dalam posisi yang sama. Mereka meyakini bahwa tidak ada kelompok masyarakat yang unggul dari kelompok masyarakat lain dalam beberapa hal. Perbedaan yang ada bukan dipahami sebagai ancaman terhadap eksistensi suatu kelompok. Pluralisme identik dengan pandangan-pandangan yang berbeda sebagai sebuah dinamisasi kehidupan bermasyarakat, perbedaan tersebut bukan diterjemahkan sebagai sebuah mekanisme untuk menghancurkan satu kelompok terhadap kelompok lain, tapi adalah sebuah karakteristik yang menunjukkan adanya rasa kepemilikan bersama, untuk kepentingan bersama dan diupayakan bersama. Dengan demikian, pluralisme ada pada posisi yang netral, tidak memihak dan objektif.

Kunci membangung jalinan kebangsaan agar semakin kokoh adalah dapat memahami, menyadari dan memfasilitasi perubahan cara pandang kita terhadap dinamika pluralitas masyarakat, hal tersebut menjadi salah satu kunci keberhasilan memelihara dan mengembangkan silaturahim antar sesama manusia. Silaturahim sebagai sebagai salah satu karateristik model masyarakat yang Islami merupakan sebuah jembatan penghubung yang kuat dan harus terus dikembangkan. Masalah pokok kita dalam hubungan antar sesama manusia, lebih khusus kalau menyangkut hal-hal yang berbau agama antar sesama umat beragama  adalah pengembangan rasa saling pengertian yang tulus dan berkelanjutan. Kita hanya akan mampu menjadi bangsa kokoh, kalau diantara kita yang memang berbeda ini dapat saling mengerti satu sama lain, bukan hanya saling menghormati, tapi yang diperlukan adalah rasa saling memiliki.

Terkait dengan problem kebangsaan yang bersumber pada sikap keberagamaan yang sering kita temui akhir-akhir ini, dapat saya simpulkan  bahwa sikap keagamaan seseorang merupakan ungkapan yang tidak jarang menumbuhkan ikatan emosional, sehingga rela berkorban demi agamanya. Tapi sayangnya, rasa emosional yang ditunjukkan kadang kebablasan. Maraknya sejumlah laskar atau organisasi berlabel agama yang diduga menciptakan kekacauan dan teror, penyerangan terhadap rumah ibadah dan kelompok agama lain serta sweeping tempat-tempat hiburan dapat menjadikan agama dipandang sebagai sosok yang seram dan itu sebagai salah satu sumber potensi konflik. Ada sebuah pergesaran yang luar biasa dalam memahami dan menangkap makna agama. Agama tidak hanya dijadikan sebagai ritualitas personal dengan Tuhan, tetapi juga diharap mampu memberikan tindakan solutif terhadap aneka problem yang dihadapi masyarakat. Agama seharusnya memberikan panduan moral dan spiritual untuk melakukan perubahan sosial ke arah yang lebih baik.

Sikap toleransi merupakan sikap menghargai pendapat dan pendapat keyakinan orang lain dari berbagai macam sendi yang berkaitan dengan permasalahan pluralitas agama, budaya dan pendapat yang tidak sejalan dengan kita. Islam mengajarkan kedamaiaan harus dimulai dari diri sendiri, kemudian meluas ke keluarga, masyarakat, bangsa dan dunia. Islam juga mengajarkan umatnya untuk menghormati keyakinan orang lain sehingga tidak boleh memaksakan keyakinan atau agama orang lain, karena jalan yang benar atau jalan yang sesat telah dimaklumi setiap manusia yang berakal (QS Al Baqarah: 256).